KESENIAN JARANAN DESA MANGUNHARJO MENJADI TRADISI BUDAYA DESA

Kegiatan Kesenian Desa

Dusun Sepatan merupakan dusun paling timur dari beberapa dusun yang ada di Desa Mangunharjo sekaligus juga merupakan dusun yang terkecil dibandingkan dengan ketiga dusun yang lain. Akan tetapi, dusun ini memiliki suatu warisan budaya yang khas dan tak lekang oleh zaman yakni, kesenian Jaranan Pegon. Jaranan Pegon sendiri menurut Mbak Dorys yang merupakan salah seorang pengurus kelompok kesenian tersebut merupakan kesenian jaranan yang memiliki kesamaan dengan jaranan yang ada di wilayah Tulungagung. Seringkali dianggap sebagai bentuk kesenian yang masih tradisional, hal ini yang pada akhirnya membedakan kesenian Jaranan Pegon di Sepatan dengan Jaranan Sentherewe di Dusun Krajan dan Karanganyar yang telah membuat beragam modifikasi dalam tarian mereka.

 

Bentuk tradisional dari kesenian ini tetap dipertahankan dikarenakan adanya suatu kepercayaan mengenai roh leluhur di kalangan masyarakat Sepatan. Warga Dusun Sepatan meyakini bahwa kesenian jaranan Pegon bukan hanya merupakan suatu kesenian belaka melainkan juga sebagai sebuah jembatan antara mereka dengan roh leluhur di Sepatan. Roh leluhur tersebut akan berkomunikasi dengan warga Sepatan pada acara jaranan melalui para penari yang dirasuki raganya. Komunikasi tersebut tidak akan dapat berlangsung jika berbagai persyaratan dari para roh tersebut tidak dipenuhi. Salah satu persyaratan tersebut adalah tetap dijaganya bentuk tradisional dari kesenian tersebut, seperti lagu, gamelan, maupun topeng barongan yang digunakan.

 

Dibandingkan dengan kesenian jaranan lainnya di Mangunharjo, gendhing atau lagu yang digunakan masih merupakan lagu-lagu tradisional turun temurun yang belum dimodifikasi. Gamelan sebagai jantung dari jaranan juga masih merupakan gamelan lama yang masih otentik yang tersimpan di Balai Dusun. Gamelan yang biasanya akan digunakan sebagai hiburan bagi kelompok tani Sepatan pada waktu luang ini, akan menghadirkan musik-musik Jawa dengan nuansa yang khas sebagai pengundang para roh dan penghibur penonton.

 

Hal yang sama pun dapat ditemukan terkait dengan topeng barongan yang digunakan oleh para penari jaranan di Sepatan. Topeng barongan yang digunakan merupakan topeng yang dibuat dari kayu jati yang lebih kuat dibandingkan beberapa kayu lainnya yang digunakan sebagai bahan pembuatan topeng barongan. Dalam hal bentuk pun, bentuk yang lebih sederhana pun terlihat dari topeng yang digunakan. Corak warna-warni beragam dan mencolok yang biasanya hadir di dalam topeng barongan kesenian jaranan lain, tidak hadir di dalam topeng barongan Sepatan. Kesederhanaan menjadi satu dengan ketangguhan kualitas bahan merupakan fitur utama yang dapat ditemukan dalam topeng barongan jaranan Sepatan.

 

Adanya berbagai keunggulan ini tidak membuat kesenian jaranan Sepatan luput dilanda permasalahan klasik yang biasa terjadi pada kesenian tradisional, yakni permasalahan regenerasi. Kesenian jaranan Sepatan sendiri sempat mengalami mati suri hingga pada tahun 2016 ketika beberapa tokoh di Sepatan mulai memiliki inisiatif untuk menghidupinya kembali. Dari kelima penari yang dibutuhkan sebagai mediator antara dunia roh dengan dunia fisik, dua di antaranya telah berdomisili di luar Sepatan. Sementara itu, proses kaderisasi bukanlah merupakan hal yang mudah. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Mbak Dorys dan juga beberapa tokoh lainnya, banyak dari generasi muda Sepatan yang enggan mengikuti kaderisasi dikarenakan adanya ketakutan akan dirasuki oleh roh, sedangkan beberapa generasi muda yang lain banyak yang merantau pergi ke kota untuk mencari pekerjaan di luar daerah mereka.

 

Terlepas dari berbagai permasalahan tersebut, kelompok kesenian jaranan Sepatan perlahan namun pasti sedang berjalan untuk menghidupkan kembali kesenian ini. Di tengah arus hiburan baru yang ditawarkan oleh hadirnya perkembangan teknologi informasi, kelompok kesenian jaranan Sepatan mulai bangkit dengan merekrut beberapa pemuda maupun anak-anak untuk menjadi penarinya. Untuk saat ini, para penikmat kesenian tradisional mungkin masih dapat bernapas lega melihat adanya geliat yang hidup di antara para pegiat kesenian ini. Namun, ke depannya campur tangan dari pemerintah tentu dibutuhkan untuk memajukan dan mempromosikan kesenian ini, bukan hanya bagi masyarakat luas tetapi juga bagi generasi muda Sepatan sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *